Selasa, 06 Oktober 2009

HUJAN TURUN DI KULON PROGO


HUJAN TURUN DI KULON PROGO

I
merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu
dan meyematkannya pada kedua belah telinga

di atas kepala, langit menggenggam telapak malam
udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum
menatap urat nadi

mimpi kami beberapa jam yang lalu
adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan
dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan
pada setiap butir pasir hitam

II
telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian
telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar
setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir
yang telah menjadi penyangga nyawa kalian

tapi kami hanya mampu membongkar dada
dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya
pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya

doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari

III
merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam
lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga kalian
menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami

Tanah Jogjakarta,2009 (Ramadhan)

Senin, 31 Agustus 2009

AMNESIA

AMNESIA

akhirnya hari ini aku lupa bagaimana caranya menjadi manusia
setelah jutaan kilometer jalan menciptakan sejarah di telapak kakiku
setelah jarum jam di tumbuhi karat dan berlembarlembar kalender
menjadi ampas yang mendengus lemah seperti gumamangumaman
berwarna kusam.

namun mengapa suaramu tidak juga segera pergi meninggalkan
gendang telingaku malah belajar menyanyikan blues dan terus
mengucurkan ratapan yang telah didekorasi itu.padahal bukankah
hari ini aku lupa bagaimana caranya menjadi manusia dan bukankah
gendang telingaku bukan tabung ratapan.

akhirnya aku harus mengingat kembali bagaimana caranya menjadi manusia
sambil membenahi suaramu yang telah mahir menyanyikan blues

Tanah Jogjakarta, Agustus 2009

Senin, 24 Agustus 2009

SEBUAH PASAR YANG BERDENYUT DI URAT MALAM

SEBUAH PASAR YANG BERDENYUT DI URAT MALAM

nasiblah yang menaburkan bayak suara kedalam sekeranjang malam
kita hanya menghampar kemudian menghampar seperti selembar sajadah
ujungnya terjulur hingga ke bibir kuburan. barangkali juga serumpun rumputan
menerus terinjak tanpa sekalipun berteriak.

(kelenjar langit yang mulai jarang menaburkan hujan
sekedar paham debar lirih doa yang kita sulam di parasnya)

kita hanya saling bertukar suara saling menawarkan nama sambil sesekali menerka
di sebelah manakah sebenarnya letak nyawa. sebab setiap jarum jam bergeser
seperti ada yang bergegas pergi pelanpelan menirukan usia yang semakin pucat.

Tanah Tangerang, Juli 2009

Minggu, 16 Agustus 2009

USAI SEBUAH BOM MELEDAK DALAM MIMPI KAMI


USAI SEBUAH BOM MELEDAK DALAM MIMPI KAMI
: mereka yang menghayalkan sorga ada di balik ledakan bom

upacara kepulangan kami rayakan dengan sebait doa kelabu
yang kami suling dari tumpukan kemarau.

tiada wangi kembang, ataupun rasa kehilangan yang menggali
lambung samudra. ataupun belasungkawa
yang berdenyut kencang di nadi hari

nisan yang kami tancapkan terbuat dari bongkahan nyawa
dan pecahan airmata.

terakhir kali, kami membayangkan sorga telah menjadi bayangan
yang berlari meninggalkan tubuh kami menuju kota tanpa lampu
tanpa rembulan dan matahari.

Tanah Tangerang, Agustus 2009

Minggu, 09 Agustus 2009

TENTANG TANAH DI BALIK PAGAR SENG PADA SEBUAH LAPANGAN


TENTANG TANAH DI BALIK PAGAR SENG PADA SEBUAH LAPANGAN

barangkali tanah yang dulu rimbun oleh pohonan asing dan rumputan tak bernama
masih menyimpan jejak hijauku. masih merekam celotehku yang tak mengandung
api dalam rahimnya. masih menimang kenangan usia kanakku.

barangkali akupun mesti menyisakan kamar lengang di kedalaman tubuh yang mulai
ditumbuhi lumut zaman. dan kupersilahkan semua ingatan yang mulai lebam berhijrah
dari gaduh waktu.

Tanah Tangerang,2009

Senin, 03 Agustus 2009

SETELAH MAGHRIB


SETELAH MAGHRIB

maghrib terpelanting dari kedua belah mataku yang temaram
parasmu belum selesai tercetak. namun runcing bibir maut
terasa begitu dekat hendak memagut helaian nafas
pada setangkai nyawa

lampu yang mematung di bibir malam menyala satu persatu
tokotoko senyap dengan pintu tertutup dan aroma kegelisahan
yang melekat likat di temboknya.

sebaris epitaf menuliskan nama dan sebuah tanggal
secara perlahan di setiap helai rambutku satu persatu


Tanah Serang,2009

Selasa, 28 Juli 2009

CELAH, LUKAI AKU


CELAH

senja belum sempat mengenakan sepatunya
dan bergegas pergi

ketika tubuhmu menjadi celah

mataku adalah pemburu yang memar
oleh setiap ketidaktepatan

menemu buruan dalam celah itu

(seekor pencari simurgh yang sasar)

Tanah Serang,2009

LUKAI AKU

lukai aku dengan seluruh keberangkatan
yang menumpahkan rindu

sedang di langit sekawanan burung
menjadikan senja sebagai kekal sarang

lalu apalagikah yang teramat memilukan
setelah sengatan kenangan

Tanah Serang,2009

Minggu, 19 Juli 2009

MUNGKIN MALAM INI, MELUPAKAN


MUNGKIN MALAM INI

mungkin malam mini aku perlu membenahi kenangan
yang tak sempat kau bawa pergi seluruhnya.yang tersisa
setelah tahun menghampar seperti sebuah permadani
dalam ruang tamu tempat setiap pertemuan dan perpisahan
dirayakan.

kenangan itu sepertinya perlu didekorasi ulang,sehingga
tak menyulam kecemasan dalam kamar di selongsong
kepalaku.sehingga aku dapat lebih sempurna menirukan
gerakan debu kala tertiup angin

Tanah Tangerang,2009



MELUPAKAN

:n.amalia

memang akar dari geletar suaramu belum seluruhnya
tercerabut dari sebidang tanah di sebalik kepalaku

maka wajar jika malam merapat dan warna kehitaman
tumpah pada bibir langit aku masih menghitung
jumlah sayatan yang kau jahit di beberapa halaman catatan harianku
tentu saja melalui tanganku.tangan yang sebenarnya mulai
letih memegang.tangan yang mengangankan istirah panjang

Tanah Tangerang,2009

Rabu, 15 Juli 2009

MALAM, LEMBANG DIBALUT HUJAN


MALAM, LEMBANG DIBALUT HUJAN

dingin yang pecah dari pembuluh malam
belum mampu membekukan
remah perbincangan kita

langit menjulurkan hujan
menciptakan ceruk kecil kenangan
dan menambah perih setiap tikung ingatan

yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan
dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali
kuhanguskan

berkalikali juga ia lahir kembali sebagai
ingatan baru.

(di kantung riwayat sangkuriang melata
pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi
rusuk yang melekat di iga waktu)

Tanah Bandung,2009

Senin, 06 Juli 2009

HALTE


HALTE

sengaja kita menghidangkan penantian
memberi nama setiap dengus napas
dengan ketergesaan yang tak lagi
berparas temaram

dan orangorang berdiri
sambil mengepulkan cerita
serta gemuruh jantung
dari patahan peristiwa

Tanah Serang,2009

Selasa, 30 Juni 2009

DI METROPOLIS TOWN SQUARE


DI METROPOLIS TOWN SQUARE*

mengapa isi kepala kita terpajang di balik etalase kaca
berjejer bersama manequinmanequin bisu. sedang diluar
hujan menderas membocorkan kerinduan paling samar
terhadap doa hutan, terhadap munajat sungai,terhadap
kenangankenangan sederhana tentang masa kecil bersama
layanglayang,enggrang dan permainanpermainan yang sekarang usang

kota ini meluncurkan perih lukanya ke arah album nostalgia
pada musim yang selalu meleleh di halaman almanak.
kita menghimpun perih luka lalu menerjemahkannya perlahan
dengan sedikit debar dan keringat yang telah berkelindan

ternyata kita hanya menerjemahkan luka demi luka. dari setiap
tikungan lebam sejarah. tubuh pun sesak seperti isi kepala
setelah berjalan menjelajahi setiap sudut dan lingkar arloji

Tanah Tangerang ,2009

*Sebuah Mall di kota Tangerang


Minggu, 21 Juni 2009

Makanlah, Jendela, Setelah Kau Pergi

MAKANLAH

makanlah benih waktu yang berderap pelan
di trotoar darahku.supaya luka tamat
dalam diamnya yang paling sempurna

Tanah Serang,2009


JENDELA

aku tak menemukan jendela di matamu
sekedar tempat untuk menerawang jauh
ke lubuk jiwa. barangkali sebaris namaku
tercatat disana dengan tinta sewarna darah

Tanah Tangerang ,2009


SETELAH KAU PERGI

keningku di tumbuhi lumut dari sejuta penantian
yang belum juga menggedor pintu rumah

kau belum tiba.sekedar mengucap selamat
atau salam

padahal ranjang dan seprai telah kubersihkan
dari sisasisa ritus penciptaan.

kemudian kusulamkan angin
dan kugantung di dinding kamar

Tanah Tangerang,2009